Penelitian game dapat beri panduan dalam pengambilan keputusan di kehidupan nyata dan negosiasi politik.

Apa yang akan Anda kaitkan dengan kata “permainan”? Pertandingan catur, permainan dadu, kubus rubik, sesi scrabble, snakes and ladders, malam Poker, video game, jam berharga Truth or Dare, turnamen tenis, ruang belajar yoga yang mengasyikkan untuk anak-anak, atau tendangan di taman? Saya yakin Anda bisa memikirkan lebih banyak lagi. Namun, jika daging rusa panggang hadir di pikiran Anda, Anda tentu akan pergi!

Untuk tujuan tulisan ini, ayo kita persempit sedikit. Dalam konteks akademik riset pengambilan keputusan, permainan ialah interaksi antara dua orang atau lebih (disebut pemain). Para pemain menciptakan pilihan dalam sebuah tugas, dan pilihan ini memengaruhi hasil mereka sendiri dan orang lain. Menurut pengertian teoretis ini, Catur bisa diklasifikasikan sebagai permainan, sebab dua pemain menciptakan pilihan bergantian, yang keduanya menentukan hasil akhir. Mengutak-atik kubus Rubik, di sisi lain, akan gagal mengisi kriteria, sebab itu ini adalah kegiatan satu orang.

Anda barangkali bertanya-tanya kenapa ini penting. Sederhana: Dengan menguji perilaku manusia dalam interaksi laksana permainan, saya dan anda bisa belajar tentang banyak prinsip umum pengambilan keputusan, dan ini dapat menolong kita mengoptimalkan opsi kehidupan nyata kita.

GAME ULTIMATUM

Misalnya saja salah satu permainan adalah permainan Ultimatum, di mana, dua pemain diberi tugas untuk membagi sejumlah uang salah satu dari mereka. Satu pemain, pengusul, mesti pergi dulu dan menyarankan teknik untuk membagikannya. Selanjutnya, pemain kedua (juga dinamakan “responden”) mesti menyimpulkan apakah bakal menerima tawaran, dalam hal mana uang akan dibayarkan cocok dengan saran pengusul, atau apakah akan menolaknya, sampai-sampai tidak ada pemain yang menerima apa pun. Jelas, ada banyakt cara untuk membagi uang. Bisa jadi pembagian 80:20, atau 50:50, atau narasumber dapat menyimpulkan untuk menyimpan 99% pot dan hanya berbagi beberapa kecil dengan orang lain.

Namun, dari sudut pandang teori semata, hanya satu teknik pemisahan dana yang masuk akal. Apakah kita siap untuk kursus kilat dalam analisis teoretis game? Ini dia: Pikirkan kembali skenario permainan yang diterangkan di atas dan tempatkan diri kita pada posisi kedua pemain. Saya yakin Anda akan setuju bahwa kedua pemain hendak menghindari hasil tanpa uang tunai. Jika ini benar, masing-masing tawaran uang di atas nol mesti memuaskan untuk responden, sebab lebih baik daripada tidak sama sekali. Mengetahui hal ini mengenai responden, mudah untuk menilai opsi terbaik untuk pengusul: Buat penawaran serendah mungkin (di atas nol) dan simpan bagian terbesar untuk diri sendiri.

Tetapi apakah ini benar-benar yang terjadi?

BUKTI EKSPERIMENTAL

Berlawanan dengan prediksi teori permainan, eksperimen sebelumnya mengindikasikan bahwa banyak pengusul menciptakan penawaran yang paling murah hati (mis. 50:50 atau 60:40), dan banyak responden menampik tawaran 30% atau kurang. Ini berarti, mereka benar-benar tidak berperilaku SEMUA dengan teknik yang dianjurkan oleh analisis rasional kami. Sekarang mengapa begitu? Apakah orang-orang berusaha untuk mengetahui aturan permainan? Tentu, permainan ini sedikit rumit pada awalnya, tetapi bisa jadi faktor-faktor selain kemampuan kognitif mengakibatkan seringnya pembiasan dari penyelesaian teori. Memang, mayoritas peneliti percaya pada pentingnya hal psikologis.

Dalam konteks permainan Ultimatum, beberapa aspek psikologis yang berbeda telah dianjurkan untuk memainkan peran. Ini tergolong norma-norma budaya seperti keyakinan liberal mengenai keadilan dan kesetaraan. Misalnya, pengusul mungkin merasa egois untuk menyimpan sebagian besar uang untuk diri mereka sendiri dan hendak menunjukkan keadilan untuk responden dengan menawarkan pembagian yang sama. Demikian pula, responden barangkali merasa tersinggung bila hanya menawarkan sebagian kecil dari pot. Mereka mungkin memandang semua pengusul itu serakah dan mengembangkan perasaan dendam, pada kesudahannya menghasilkan kemauan untuk menghukum semua pengusul.

MENERAPKAN NILAI-NILAI PERMAINAN POKER PADA PILIHAN KEHIDUPAN NYATA

Analisis kami terhadap permainan Ultimatum sudah menyoroti pentingnya faktor-faktor psikologis dan emosi dalam hal pengambil keputusan. Mengambil analisis ini lebih lanjut, kita dapat menerapkan permainan Ultimatum ke dilema kehidupan nyata, dengan contohnya negosiasi perceraian. Seperti dua pemain dalam permainan, skenario perceraian memaksa dua orang yang telah menikah untuk membagi harta bersama mereka. Seperti dalam permainan, kepentingan kedua orang untuk menciptakan kesepakatan, sebab tidak salah satu dari mereka berharap terjebak dalam kebuntuan diskusi tanpa akhir, yang akan menangkal akses ke properti mereka sama sekali! Tetapi bagaimana teknik menavigasi negosiasi? Di sinilah temuan dari game eksperimental masuk.

Seperti yang dianjurkan oleh riset sebelumnya, tugas keputusan tipe Ultimatum, bisa melibatkan berbagai norma dan emosi kebiasaan yang kompleks. Sebagai contoh, dua negosiator perceraian mungkin dianjurkan untuk mempertimbangkan norma-norma keadilan, sebab penawaran yang menghina dapat menyebabkan penolakan untuk kembali ke meja perundingan! Tidak diragukan lagi kita bisa menerapkan nilai-nilai yang kita dapatkan dari sebuah permainan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Mari kita ambil permainan kartu yang sangat populer, yaitu Poker. Permainan ini tidak hanya sebuah permainan, banyak teknik-teknik yang bisa kita pelajari dari Poker untuk diterapkan di dalam hidup kita. Mengambil keputusan juga tidaklah mudah, Poker menuntutmu untuk stay composed dalam mengambil keputusan. Pada permainan Poker IDNPlay yang sedang populer saat ini, satu keputusan yang salah akan membuatmu kalah. Beberapa pemain Profesional juga menceritakan tentang pengalaman mereka, tentang bagaimana mereka menerapkan berbagai macam teknik Poker kedalam kehidupan mereka.

Tetapi pentingnya game ini tidak terbatas pada interaksi salah satu individu orang. Ini pun dapat diterapkan pada interaksi antar kelompok, organisasi atau negara. Contoh topikal adalah debat Brexit yang sedang berlangsung, atau apa yang dapat disebut sebagai negosiasi perceraian antara Inggris dan Uni Eropa. Berdasarkan situasi saat ini, Inggris bakal meninggalkan Uni Eropa pada akhir Maret. Sama seperti dalam permainan Ultimatum kami yang sederhana, kedua pemain (Inggris dan UE) mesti menegosiasikan situasi perceraian mereka. Kesepakatan secara khusus bisa jadi akan menguntungkan seluruh orang, misalnya menolong kelanjutan perjalanan, transportasi, dan perdagangan antara Inggris dan UE. Namun, sementara semua pemain mengupayakan menghindari skenario tanpa kesepakatan (serupa dengan hasil nol dalam pertandingan Ultimatum), negosiasi sebetulnya rumit. Sama seperti dalam eksperimen dengan permainan abstrak, motif psikologis sangat penting dan emosi ingin meningkat. Karenanya, saat menilai debat Brexit, pendekatan analitis murni tidak bakal berhasil. Sebagai gantinya, saya dan anda butuh mempertimbangkan usulan tentang keadilan, kebencian, dan rasa fobia untuk mengejar solusi.

Jadi, apakah Brexit hanya pertandingan besar?