Ketika orang mengintai posisi pada sebuah masalah, mereka yang sedang di satu kamp atau yang lain tidak jarang menanggung beban asosiasi bukan sebab mereka sendiri. Seperti itulah yang terjadi di bidang klimatologi. Selama bertahun-tahun, mereka di kamp: a) tidak terdapat pemanasan global, b) Bumi tidak jarang kali hangat dan dingin, atau c) Bumi memanas, namun atribusi insan minimal atau tidak dicerna dengan baik, sudah melekat pada istilah skeptis. Beberapa pengertian kamus skeptis atau skeptis termasuk:

 ajaran bahwa pengetahuan atau pengetahuan yang benar di bidang tertentu tidak pasti
 seseorang yang mempertanyakan validitas atau kemurnian sesuatu yang menyatakan sebagai fakta
 seseorang ingin mempertanyakan atau meragukan pendapat yang diterima

Mereka yang sedang di kamp menerima konsensus ilmiah yang spektakuler bahwa Bumi memanas dan kegiatan manusia yang secara signifikan berkontribusi pada pemanasan tidak jarang lebih memilih istilah yang berbeda untuk mereka yang menyinggung dirinya skeptis evolusi iklim: denier. Berikut sejumlah definisi kamus denier:

 mendustakan kebenaran
 seseorang yang menampik untuk menerima keberadaan, kebenaran, atau validitas sesuatu meskipun bukti atau sokongan umum guna itu

Definisi kedua ialah dari Dictionary.com dan contoh-contoh yang mereka pakai untuk menggambarkan pengertian mereka merupakan: “Penulis ialah denominasi Holocaust; suatu denier evolusi iklim. “Dua contoh. Referensi kesatu Holocaust dan referensi kedua evolusi iklim. Di sinilah letak masalah untuk mereka yang tidak bergabung dengan konsensus ilmiah. Haruskah orang-orang yang dengan tulus dan jujur ​​mempunyai pertanyaan tentang suasana ilmu evolusi iklim diberi label dengan istilah yang analog dengan denominasi Holocaust? Massa Cliff baru-baru ini mencatat bagian yang panjang mengenai masalah ini. Orang lain pun menimpali usulan skeptisisme (lihat: tulisan Marshall Shepherd mengenai Forbes).

Pada 2015, Associated Press memodernisasi Panduan Gaya eponim mereka dengan pengakuan berikut: “Panduan kami ialah menggunakan pengamat evolusi iklim atau mereka yang menampik ilmu iklim utama dan guna menghindari pemakaian skeptis atau mendustakan.” Ini merupakan tahapan di luar skeptis vs. debat denier yang dibicarakan di atas.

ANDA JUGA MUNGKIN

Masalah dalam polemik tentang terminologi ialah masalah legitimasi ilmiah. Apakah orang yang pengetahuannya tentang evolusi iklim dikoleksi hanya dari radio bicara berhak mendapat guna dari keraguan sehubungan dengan dicap sebagai denier? Bagaimana dengan seorang profesor ilmu atmosfer yang terkenal? Bagaimana dengan seorang insinyur listrik?

Profesor Judith Curry tidak jarang diwawancara guna pemikirannya tentang evolusi iklim. Sementara label denier oleh tidak sedikit orang, ia mengakui bahwa untuk sejumlah derajat, dia ialah bagian dari konsensus.

“Ya tersebut menghangat. Ya, insan berkontribusi guna itu. Maksud saya seluruh orang setuju dengan itu; dan saya di 98%. Saat itulah Anda hingga pada rinci bahwa terdapat ketidaksetujuan yang pribumi [7 Januari 2017]. “Apakah dia seorang denier? A skeptis? Seorang yang ragu?

Ini pertanyaan yang sulit. Saya menggagas tes dasar guna menilai siapa yang sudah mendapatkan guna dari keraguan mengenai apakah bakal diberi label denier atau tidak.

 Apakah orang itu mempunyai latar belakang akademis atau profesional dalam ilmu atmosfer atau klimatologi? Jika jawabannya ya, maka mereka mendapat guna dari keraguan dan jangan disebut denier.
 Apakah orang itu mempunyai latar belakang akademis atau profesional dalam bidang beda dan bukan bidang yang berhubungan dengan iklim? Jika jawabannya ya, maka mereka belum berhak dinamakan di samping denier.

Tentu saja ini melalaikan masalah cuaca “denier” adalahpernyataan pada posisi melulu menyebut nama. Pendapat saya ialah bahwa tersebut bukan nama yang tidak layak memanggil orang-orang di luar lapangan. Tentu saja terdapat ironi dalam tidak sedikit orang yang menyesalkan apa yang dinamakan denier tidak jarang merujuk pada orang-orang yang menerima konsensus sebagai “penghangat” atau “alarmis.”

Klimatologi ialah subjek yang akrab dengan orang-orang sebagai hasil dari empiris hidup. Semua orang menyaksikan awan, menikmati hujan, dan terbungkus dalam dingin. Hal ini menciptakan orang merasa nyaman untuk membicarakan masalah-masalah investigasi ilmiah yang serius. Namun, tersebut bukan teknik kerja sains. Mereka yang mengerjakan penelitian di lapangan sudah mendapatkan hak untuk menciptakan pernyataan kontroversial mengenai subjek tanpa diberi label bidaah. Ini ialah hak yang diterima.

Jika kita tidak sedang di komunitas ilmuwan iklim tetapi memandang konsensus ilmiah evolusi iklim / pemanasan global, tidak terdapat masalah. Itulah dengan kata lain mempunyai konsensus berpengalaman dan meyakini sains. Misalnya, saat seorang berpengalaman meteorologi tropis menuliskan bahwa angin topan ingin terbentuk saat angin berhembus tinggi, banyak sekali orang barangkali tidak tahu apa tersebut angin geser, namun percayalah bahwa para berpengalaman tahu apa yang mereka bicarakan. Jadi, tanpa memahami apa juga tentang sebuah topik, Anda bisa berada di sisi “benar” dengan melulu mengikuti konsensus. Namun sebaliknya tidak benar.

Apakah ini tidak adil? Tidak. Saya lumayan paham mengenai fisika untuk melatih anak-anak sekolah mengenai gravitasi. Saya bakal mulai dengan gravitasi Newtownian dan pindah ke gravitasi relativistik Einsteinium. Jika, di sisi lain, saya pergi ke ruang ruang belajar dan melatih para murid bahwa Einstein salah, tersebut masalah besar. Saya lebih baik mempunyai PhD ialah fisika, CV gemuk, dan barangkali Hadiah Nobel guna nama saya. Dengan tidak adanya kredensial itu, saya berhak diberi label denominasi Relativitas Umum. Periode. Hal yang sama berlaku guna ilmu iklim.